Gambar bagan rencana bangunan gedung Panti Asuhan Gotong Royong

Aku dan Adzwari Ridzki merekam acara peletakan batu pertama pembangunan Panti Asuhan Gotong Royong di Panggungharjo, Sewon, Bantul, Minggu 25 September 2011. Aku rekam foto dan video dengan kamera Fuji HS10 , Ridzki foto dengan Canon 20D.

Maksud hati mengemasnya dalam format video, dan menyerahkan ke pihak panti selekasnya. Ternyata macbook seri G punya Ridzki tidak bisa membaca format videonya. Notebook punyaku tidak punya aplikasi untuk video.

Aku lalu kenal Dwi Kurniawan pada awal tahun ini. Mengetahui Dwi punya komputer iMac, aku minta tolong untuk mengemas video itu.

Dwi membantu dengan senang hati pada Rabu 18 April 2012. Dia edit video itu dengan perangkat lunak Final Cut, selesai dalam tiga jam. More »

Share in top social networks!

Hati-hati parkir di Stadion Sultan Agung Bantul

Untuk pertama kali saya masuk ke lingkungan komplek Stadion Sultan Agung Bantul, Minggu 4 April 2012. Saat itu untuk melihat, juga pertama kali, kompetisi pacuan kuda Bupati Bantul Cup ke 2. Tiba pukul 14.00, saya cuma bisa lihat mulai race ke 15, sampai yang terakhir, race ke 18, karena pacuan dimulai sejak pagi.

Penonton ramai, memadati sisi luar lintasan sepanjang bagian Timur. Ada juga penonton di sisi dalam lintasan. Arah pacuan kuda mengikuti jarum jam. Bagian penonton yang bertempat duduk, dan bertenda, kapasitasnya hanya sekitar 1000 kursi, sepertinya khusus untuk undangan, juga penuh.

Tidak ada tiket masuk untuk pengunjung pacuan tersebut, hanya untuk kendaraan yang dikenakan tarif. Saya bayar Rp2.000 untuk sepeda motor. Namun, saya kecewa dengan pelayanan yang saya dapat dari jumlah uang tersebut.

Pertama, cukup jelas tertulis dalam karcis tersebut “BARANG HILANG BUKAN TANGGUNG JAWAB KAMI”, dengan semacam stempel dari PAGUYUBAN PARKIR STADION SULTAN AGUNG BANTUL (PASSABA). Maka, petugas parkir Stadion Sultan Agung Bantul tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan kendaraan itu. Tak ada guna mempertanyakan kendaraan Anda ke petugas jika hilang.
More »

Share in top social networks!

Inilah materi seri live tweet dari sidang perdana Tipikor di DIY, pada  14 Juni 2011. Pengalaman pertama yang menyenangkan. Bisa mengikuti sidang korupsi negara sebagai seorang warga sipil, tanpa beban untuk liputan, hehehe.

Di lokasi sidang, saya bertemu dengan beberapa kawan pegiat anti korupsi yang lebih senior. Jika bingung, mudah saja, bisa langsung tanya mereka. Nama-nama senior itu saya sebut dalam materi tweet.

Ah, kiranya menarik jika lebih banyak orang memanfaatkan twitter demikian. Info yang patut diketahui publik jadi cepat menyebar. Tentu, isinya harus jujur.

Nah, yang duduk di kursi terdakwa adalah Kades Desa Mangunan, Dlingo, Bantul, Jiyono Ihsan bin Sadimin. Dia didakwa korupsi dana rekonstuksi pasca gempa sebesar Rp2.085.500.000.

Saya baru punya ide untuk menyelamatkan dan menampilkan data ini, tiga minggu setelahnya. Tidak mudah untuk melacak kembali materi twit itu, karena–setelah tiga minggu–saya sedang agak berlebihan menyampah di twitter, hihi.

Mungkin saja bisa. Tapi, butuh koneksi ekstra cepat, dengan dukungan pc yang juga hebat, untuk bisa menemukannya kembali di twitter. Yang jelas saya tidak punya perangkat seperti itu. Lalu, saya menyerah.

More »

Share in top social networks!

Pengalaman jurnalistik: Berimbang

Teori dasar peliputan jurnalistik adalah melakukannya secara berimbang. Setiap pihak yang berperan dalam suatu konflik wajib diberi ruang yang sama untuk bersuara. Jurnalis–yang bekerja dengan prosedur standar–pasti sadar, konflik mungkin ada, atau baru diketahui, ketika pihak lain diwawancarai. Pengalaman Saya, yang hanya seujung kuku, menegaskan wawancara lebih dari satu sumber penting. Siapa tahu, justru ada konflik?

Produk jurnalistik yang Saya kerjakan, termuat dalam Harian Jogja hari Rabu tanggal 18 September 2010, menegaskan hal itu. Soal konflik, yang ditemukan kemudian tersebut, mau diwartakan atau tidak, nah, itu terkait independensi jurnalis pribadi.

Kejadiannya pada Selasa, 17 September 2010. Saya turuti ajakan dari dua orang wartawan media cetak senior untuk meliput suasana pengambilan honor insentif oleh para guru tidak tetap di Kantor Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Bantul. Honor tersebut dibagi sejak Senin, 16 September 2010. Pembagian dilakukan dalam satu meja per kecamatan, per tingkat SD/ SMP.

Awalnya, kami mengambil gambar suasana, antrian, dan uang-uang yang berpindah tangan, tanpa wawancara dengan para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Lima menit kemudian, kami wawacarai Sekretaris Dikdas, Subarkah, di ruang kantor kepala dinas. Beliau mengatakan, honor yang dibagikan dipercepat, yakni sampai triwulan ketiga. Biasanya, honor dibagi pada bulan keempat, untuk triwulan yang berjalan di belakangnya. Honor tersebut sebesar Rp200.000 per bulan dari Pemda Bantul, dan Rp100.000 per bulan dari Pemprov DIY.

Artinya, menurut Subarkah, yang dibagi pada saat itu adalah honor bulan Juli, Agustus, dan September. Seharusnya, menurut kebiasaan, honor triwulan tersebut dibagi pada Oktober.

Subarkah beralasan, pembagian honor tersebut dipercepat guna membantu kebutuhan para guru tersebut menjelang Idul Fitri, yang biasanya meningkat. Demikian yang beliau katakan pada Saya, dua wartawan cetak, dan dua wartawan televisi yang menyusul kemudian. Setelah itu, kami bubar.

Saya tidak segera tinggalkan kantor tersebut. Saya ingin tahu tanggapan para penerima. Yang ternyata, jawabannya mengagetkan.

Para guru justru mengaku kecele. Sebab, awalnya mereka juga berasumsi serupa dengan pernyataan Subarkah: pembagian honor sampai triwulan ketiga. Faktanya, hanya untuk triwulan kedua, yang jelas-jelas sangat terlambat. Ini namanya bukan membantu, tapi malah menyusahkan orang di bulan Ramadan. Pembagian honor terlambat sampai dua bulan.

Berdasar keterangan guru demikian, Saya menjadi harus meluruskan persoalan. Apa sah, jika Saya mengadu dua persepsi tadi mentah-mentah, secara terpisah. Si fulan bilang begini, tapi si falun bilang begitu. Toh, kedua pihak sudah mengajukan pernyataan, tinggal sebut saja: pernyataan dinas dibantah guru. Selesai persoalan. Tapi apa faktanya? Ini berita mau memaparkan fakta, atau mengadu pendapat saja?

Saya pilih untuk memaparkan fakta, baru kemudian pendapat. Saya wajib konfirmasi ke pihak dinas, dan mencari ketegasannya, demi kejernihan. Jika dinas tetap bersikukuh menegaskan yang dibagi adalah honor triwulan ketiga, barulah yang terjadi adu pendapat. Fakta yang menjadi makin tegas adalah dinas membohongi publik.

Bisa saja Saya tidak mewartakan masalah keterlambatan tersebut. Sebab toh, Saya bisa berlindung di balik pernyataan dinas. Tapi, Saya tidak tertarik untuk jadi wartawan yang hanya memberitakan ‘pendapat’.

Saat Saya konfirmasi, awalnya Subarkah kaget. Lalu, beliau tanya ke sejumlah stafnya, di sekretariat, hingga ke bagian keuangan. Semua stafnya bilang hanya sampai triwulan kedua, dan memang terlambat. Penjelasannya apa, Subarkah, dan staf di dua bagian itu tidak tahu. Saya diminta tanya ke Bidang SD, dan atau ke Bidang SMP. Kepala Bagian SD tidak ditempat, tapi Saya dapat penjelasan dari bawahannya. Namun, bawahan tersebut tidak mau disebut sebagai sumber penjelasan tersebut. Lalu, Saya ke Bidang SMP, tidak ditemukan kepalanya.

Bolak-balik, Saya cari lagi Subarkah. Beliau lalu minta Saya menunggu di ruang keuangan. Subarkah kemudian berupaya mencari stafnya yang mengetahui. Peliputan yang tadinya bisa usai dalam 20 menit, jika hanya berhenti di keterangan Subarkah, menjadi berlangsung selama dua jam.

Akhirnya, Subarkah datang bersama Kepala Bidang SMP, dan staf keuangan lain. Penjelasan mereka, pembagian kali ini diakui terlambat, karena dihitung sejak keterlambatan pembagian yang triwulan pertama. Pembagian pertama karena realisasi kesepakatan (MoU) dengan pihak Provinsi, terkait rencana sumber dana insentif kepada GTT ditarik dari dana Biaya Operasional Sekolah Daerah (Bosda), juga molor.

Pembahasan kesepakatan tersebut, jelas Subarkah, berjalan cukup pelik. Sebab, terkait hitung-hitungan keuangan kabupaten dan provinsi. Nilai komponen insentif tersebut sangat tergantung dengan jumlah siswa, dan guru di satu sekolah. Yang menjadikan berat adalah ketika ditemui suatu sekolah yang jumlah siswanya sedikit, namun jumlah GTT-nya banyak.

Demikian ceritanya. Silakan bekerja dengan idealisme Anda masing-masing. Mau ambil enaknya, susahnya, amannya, atau tidak peduli, terserah. Tapi, ingatlah, loyalitas jurnalis yang prioritas adalah untuk publik. Semoga bermanfaat.

 

Share in top social networks!

Minggu, 5 September 2010

Saya tertarik memberitakan keluhan warga Pedukuhan Baros, Desa Tirtohargo, Kretek, Bantul: terjadi penambangan pasir pantai  di bagian dalam hilir Sungai Opak sisi Selatan.

Pukul 13.00, saya bertemu dengan warga setempat, di batas vegetasi tanaman bakau. Jaraknya dari tepi Utara hilir hanya tiga menit jalan kaki. Narasumber Saya adalah tokoh pemuda Baros, Dwi Ratmanto, dan Iswantoro.

Tanaman yang punya fungsi sebagai pemecah ombak, dan angin, di pantai tersebut, tampak sudah besar. Tingginya mencapai tiga meter. Tanaman ini berusia sekitar delapan tahun, dan sudah dapat dijadikan induk penghasil bibit.

Pahami dulu, bagian hilir Sungai Opak melintang dari Timur ke Barat, setelah sungai tersebut bertemu dengan Pantai Depok, di Desa Parangtritis, Kretek. Sehingga, batas Selatan Desa Tirtohargo tidak langsung bertemu laut, melainkan hilir Opak lebih dulu, lalu pantai. Nah, lebar pantai dengan hilir tersebut bervariasi, berkisar antara 200 meter sampai 400 meter.

Dampak penambangan pasir ini sangat berbahaya. Pasir tersebut berfungsi sebagai penahan ombak. Jika terus dikeruk, bukan tidak mungkin muara justru hilang, dan Tirtohargo langsung berbatasan dengan laut. Padahal, ada beberapa jenis tanaman pertanian warga, dan tambak-tambak kepiting, atau ikan air payau lainnya yang baru dirintis, yang berada di antara bakau dengan muara.

Setelah dapat data, dan dengar keluhan dari mereka, Saya merasa perlu mengimbangi dengan suara dari penambang yang berada di sisi Selatan. Dari sisi Tirtohargo lebar hilir tersebut, yang harus diseberangi, sekitar 200 meter.

Ada dua cara untuk mencapainya, memutar dan menyeberang. Memutar berarti, melalui Depok, yang itu berarti harus kembali lagi ke Jalan Parangtritis, yang jaraknya 5 km dari tempat kami, parkir sepeda motor di obyek wisata Pantai Depok, lalu masih harus jalan kaki sekitar 2 km menuju lokasinya.

Kami pilih cara menyeberang. Alatnya adalah rakit. Ini kali pertama Saya naik rakit.

di atas rakit yang terus bergoyang

Tas berisi perlengkapan tulis Saya titipkan ke sorang warga setempat yang memantau kegiatan kami di tepi sungai. Saya hanya membawa peralatan kamera saku pinjaman dari kawan Fikri–terimakasih banyak untuk pinjaman alat ini.

Rakit ini berbentuk segi tiga, dengan panjang masing-masing sisi sekitar 2 meter. Alat untuk menggerakkannya adalah sebilah bambu sepanjang 5 meter.

Ternyata, agak ribet naik rakit ini. Posisi kami harus simetris supaya seimbang. Dwi duduk di depan bersimpuh, Saya jongkok di tengah, Iswantoro di belakang berdiri sebagai pengayuh. Bahaya jika penumpang berdiri karena dapat menambah kencang goyangan rakit. Saya pilih jongkok, demi menghindari air membasahi pantat.

Tidak tega melihat perjuangan Iswantoro mengayuh. Bayangkan, beban penumpang, ditambah lagi dengan kuatnya arus ke arah hilir, dan terpaan angin. Kami harus menempuh perjalanan di atas air sepanjang 200 meter selama 15 menit. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan penumpang selain duduk diam dengan tenang, dan berdoa.

Kemungkinan jatuh sangat besar. Kami sama sekali tidak mengenakan pelampung, dan jauh dari pantauan tim SAR.  Ini adalah perjalanan 15 menit yang agak menegangkan, meski tidak memacu adrenalin.

Sampai di seberang, Saya hanya sempat mengorek sedikit info dari sang penambang. Sepertinya, Dia sadar aktivitasnya ilegal, dan menjawab setengah hati, lalu bergegas minggat.

Perjalanan kembali, sekali lagi, membuat Saya menahan nafas, dan terus berdoa. Pelajarannya, jangan pernah naik rakit di atas arus sekuat itu lagi tanpa pelampung. Tidak perlu celaka dulu baru kemudian menyadari resiko ini.

Share in top social networks!

Selasa, 17 Agustus 2010

Upacara proklamasi 17 Agustus, biasanya diperingati secara formal di lapangan terbuka. Diikuti peserta yang serba berseragam, dengan kaidah protokoler tertentu. Masyarakat umum hanya bisa menonton, takjub menyaksikan semua ketertiban, atau bisa Saya sebut juga ‘kekakuan’, ritual tersebut.

Generasi muda di Sulang Kidul, Desa Patalan, Jetis, Bantul, coba patahkan kekakuan itu. Sejak 2008, mereka gelar peringatan detik-detik proklamasi yang sangat cair. Nah, digelar lagi pada 17 Agustus 2010.

Semua warga bisa jadi peserta dengan khidmat, dan bebas dari seragam. Ada beberapa peserta berusia lanjut dengan pakaian sehari-hari. Ada pula para petani bercelana pendek, bercaping, dan memakai sepatu bot. Kostum itu tidak dibuat-buat, melainkan karena para petani itu sebelumnya memang sedang di lahan. Apa adanya.

foto dari @si_enthon9

Sayang, Saya tidak menyaksikan langsung momen unik itu, karena sedang memburu narasumber berita untuk tugas kantor, yaitu upacara resmi Pemda Bantul, di lapangan Desa Trirenggo. Saya juga telat tahu info ini. Sekitar pukul 12.00 saya kirim pesan pendek ke ponsel Veta Mandra (warga Pleret, Bantul) menanyakan di mana ada upacara yang unik. Setengah jam kemudian, Veta menjawab ada di kampung Aam Krisnadi. Dari Aam, alias @si_enthon9, yang ternyata ketua panitia, Saya dapat semua cerita ini.

Rangkaian upacara mengikuti pakem. Ada komandan, dan inspektur upacara yang membacakan amanat. Ada pengibaran bendera dengan iringan lagu Indonesia Raya. Ada juga pengelompokan pasukan, meski hanya berdasar kriteria umur, dan jenis kelamin. Jumlah peserta hampir 200 orang. Upacara dipimpin oleh tokoh masyarakat, Harsono, dan komandan upacara, Hendra.

foto dari @si_enthon9

Harsono adalah seorang guru di sebuah MAN di Gunungkidul, sementara Hendra seorang Satpam. Hendra mengenakan kostum layaknya tentara. Kostum itu dipinjamkan Aam, yang mendapatnya dari lemari sang kakek yang veteran tentara.

Upacara yang bersahaja ini digelar di lapangan volley, di antara bentuk U kandang sapi di kampung tersebut. Kesederhanaan tampak dari tiang bendera yang terbuat dari bambu yang sudah miring, dan pakaian yang dikenakan peserta. Satu-satunya kelompok orang yang berseragam adalah pasukan pengibar bendera. Ritual upacara usai dalam 30 menit, lalu diakhiri dengan penyerahan hadiah lomba tujuh belasan.

foto dari @si_enthon9

Aam mengatakan, ide dasar sejak upacara itu diadakan adalah keinginan pemuda kampung itu agar semua golongan masyarakat dapat mengikuti upacara. Selama ini, upacara digelar oleh instansi pemerintahan, atau sekolah, dan hanya dapat diikuti kalangan terbatas. Padahal, semua ingin merayakan, dan mengukuhkan jiwa nasionalisme. “Si mbah-mbah itu belum pernah ikut upacara,” ucap lulusan sekolah tinggi komputer ini.

Upacara itu menghabiskan biaya sebesar Rp150.000 untuk persewaan pengeras suara, dan kebersihan. Nilai hadiah yang dibagikan sebesar Rp270.000 yang untuk anak-anak, lalu ada beberapa ekor bebek untuk pemenang lomba dewasa. Sumber dana dari sejumlah donatur warga setempat yang kondisi ekonominya relatif kaya. Tidak ada iuran wajib per keluarga untuk tahun ini, mengingat pengeluaran warga selama Ramadan, bulan sebelumnya, sudah relatif besar.

Pesan moral yang saya dapat adalah menjadi peserta upacara adalah hak setiap orang. Kalau dilarang, bersatulah, buatlah upacara sendiri. Dan, kita semua bisa bertanya: MERDEKA?

Share in top social networks!
Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: