Ratusan relawan dan LO mendukung Asean Para Games 2011

Ratusan relawan dan LO mendukung Asean Para Games 2011

Ratusan relawan dan LO (Liaison Officer) siap mendukung perhelatan Asean Para Games (APG) 2011 pada 12-22 Desember di Solo. Demikian laporan dari panitia (Organizing Committee) bagian Sumber Daya Manusia yang disampaikan pada rapat koordinasi di Hotel Sahid Jaya Solo, Sabtu, 26 November 2011.

Persisnya, ada 625 relawan, dan 200 LO alias petugas penghubung. Sebelumnya, ada 1099 yang mendaftar menjadi relawan, lalu yang mengikuti pelatihan 800 orang. Proses rekrutmen sampai penerimaan akhir berlangsung selama bulan November 2011.

Keakraban antara LO dengan official dan atlet, dalam sesi klasifikasi, di Stadion Renang Manahan Solo, 12 Desember 2011

Continue reading

Menanggapi Wacana Pembubaran Pengadilan Tipikor

Berikut adalah rilis media dari Jejaring Anti Korupsi Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, menanggapi wacana pembubaran pengadilan Tipikor daerah. Disampaikan di kantor Pukat (Pusat Kajian Anti Korupsi) UGM, 22 November 2011.

Pengadilan Tipikor Bukan Titipan Koruptor

Pengadilan Tipikor yang diharapkan menjadi pemberantas koruptor, belakangan ini terasa mulai keluar dari harapan. Sejumlah Pengadilan Tipikor di daerah ramai-ramai membebaskan tersangka korupsi. Maka tidak heran, banyak kalangan menuntut pembubaran Pengadilan Tipikor.
Continue reading

Musim hujan di Puncak Merapi 2011

Musim hujan di Puncak Merapi 2011

Saya bukan orang yang menyukai seremonial peringatan. Bukan peringatan satu tahun erupsi Gunung Merapi alasan saya untuk mencapai puncaknya pada 26 Oktober 2011 lalu. Kesamaan tanggal itu hanya kebetulan.

Hasilnya, dasar kawah Merapi tidak tampak saat saya mencapai puncak pada pukul 10.00 WIB. Kabut menyesaki kawah sampai ke bibirnya. Setidaknya selama 45 menit saya di puncak, kabut tersebut tidak berkurang. Pemandangan yang bisa kami lihat hanya ke arah sisi kami mendaki, yakni Utara.

Continue reading

Profil Ustad Wijayanto: Bang Toyib yang punya banyak anak

Profil

Ustad Wijayanto:

Bang Toyib yang punya banyak anak

Bagian ketiga dari empat bagian.

Dirumahnya, di atas lahan seluas 1600 meter persegi, Wijayanto tidak hanya tinggal bersama anak istri, tapi juga berbagi dengan pengasuh kantor, pondok pesantren putri, dan ruang kelas play group Bina Anak Soleh (BIAS).

Pada bagian halaman, ada pondok bertingkat untuk tamu-tamu yang hendak menginap. Fungsi-fungsi tambahan itu sudah berjalan sejak sekitar 5 tahun lalu.

Konsep rumah Wijayanto bersifat terbuka, bisa berkembang, dan tanpa gaya tertentu. Banyak ruang untuk keluar masuk udara, dan cahaya. Tinggi atapnya 14 meter, tetap sejuk meski tanpa kipas, dan tanpa AC. Dia membangun rumahnya dari tanah kosong.

Dua tahun lalu pernah terjadi kebakaran, akibat ada yang membakar sampah di sebelah rumahnya, dengan korban dua mobil. “Rancangan tumbuh saja, berkembang, kurang ini tambah ini,” kata Wijayanto.

Sebagai pengasuh Yayasan BIAS, ada 90 putra putri di pondok pesantren yang harus diurus Wijayanto. Hampir semua bagian rumah, tanah miliknya, bisa dipakai BIAS. Baginya, BIAS adalah wadah untuk beramal, bukan untuk mengambil keuntungan. “Saya sudah menyatu (dengan BIAS), hidup saya itu untuk agama. Itu keberkahan rejeki, saya pegawai negeri, tapi anak-anak belum pernah kelaparan,” ucapnya.

Continue reading

Profil Ustad Wijayanto: Berdakwah secara alamiah

Pengantar:
Saya tidak pernah menyaksikan secara langsung ceramah dari Ustad Wijayanto. Hanya pernah melihatnya beberapa kali di layar televisi. Pada bulan Ramadan 1432 Hijriah, penampilan beliau kembali saya lihat di televisi. Saya kagum penampilannya yang bersahaja, dan selalu bisa mengemas materi dakwahnya secara memikat dan dapat diterima siapa saja.

Penampilan tersebut tidak dibuat-buat, memang demikianlah beliau dalam kesehariannya. Ini saya simpulkan dari pertemuan yang hanya sekitar dua jam, untuk kepentingan wawancara rubrik Sosok di koran tempat saya bekerja dulu, pada Februari 2009. Sebelumnya, saya hanya mengenal suara ustad itu dari siaran Radio Geronimo FM pada tahun 2000.

Tulisan berikut adalah hasil wawancara tersebut. Saya ubah sedikit, dibandingkan tulisan untuk koran tersebut, untuk kepentingan blog ini. Ingat, untuk konteks waktu, koran tersebut memuat tulisan yang bersifat profil ini pada tahun 2009. Saya tampilkan dalam empat bagian di blog ini.

Ini adalah bagian pertama dari empat bagian.

Profil

Ustad Wijayanto:

Berdakwah secara alamiah

Setiap penceramah punya gaya yang menjadi ciri masing-masing, yang melekat dan membuatnya laris untuk diundang mengisi berbagai pengajian. Gaya itu harus otentik, dan tidak dibuat-buat.
Continue reading

Profil Ustad Wijayanto: Ustad Gaul

Profil

Ustad Wijayanto:

Ustad Gaul

Bagian kedua dari empat bagian.

Sejak tiba di Jogja untuk kuliah, selama belasan tahun Wijayanto menyanggupi permintaan Radio Geronimo FM, mengisi program siaran radio tanya jawab Agama Islam, yang segmennya anak muda. Wijayanto dikenal bisa menjawab dengan bahasa yang akrab di telinga anak muda. Kemudian, dia mulai mendapat julukan ‘gaul’.

Istimewa dari Ustad Wijayanto

Wijayanto tergolong ustad senior dalam hal mengisi pengajian atau konsultasi agama di televisi, baik TVRI maupun swasta nasional. Ketika awal Metro TV jangkauan siarnya masih sebatas Jakarta Bogor Tangerang Bekasi, Wijayanto adalah salah satu pengisi acara agama pertama, bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). “Kalau item agama saya jadi narasumber, Cak Nun host (pembawa acara). Kalau politik, Cak Nun narasumber, saya host,” kenangnya.

Continue reading