Profil Ustad Wijayanto: Ustad Gaul

Profil

Ustad Wijayanto:

Ustad Gaul

Bagian kedua dari empat bagian.

Sejak tiba di Jogja untuk kuliah, selama belasan tahun Wijayanto menyanggupi permintaan Radio Geronimo FM, mengisi program siaran radio tanya jawab Agama Islam, yang segmennya anak muda. Wijayanto dikenal bisa menjawab dengan bahasa yang akrab di telinga anak muda. Kemudian, dia mulai mendapat julukan ‘gaul’.

Istimewa dari Ustad Wijayanto

Wijayanto tergolong ustad senior dalam hal mengisi pengajian atau konsultasi agama di televisi, baik TVRI maupun swasta nasional. Ketika awal Metro TV jangkauan siarnya masih sebatas Jakarta Bogor Tangerang Bekasi, Wijayanto adalah salah satu pengisi acara agama pertama, bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). “Kalau item agama saya jadi narasumber, Cak Nun host (pembawa acara). Kalau politik, Cak Nun narasumber, saya host,” kenangnya.

Wijayanto dapat banyak pengalaman menarik selama mengisi tanya jawab di radio itu. Dengan segmen anak muda Jogja yang kritis, Wijayanto mengaku terkadang mendapat pertanyaan sulit, atau menjebak. Namun, dia selalu bisa menjawab dengan bijak. Misalnya, ada yang tanya bagaimana tugas malaikat Jibril. “Ada saja orang tanya gitu, jebak saya. Saya jawab, tugasnya mengumpulkan potongan besi. Biar dia tanya lagi, untuk apa. Untuk mukulin orang yang tanya kayak kamu,” jelas Wijayanto.

Menurut Wijayanto, jawaban bijak demikian diperlukan. Sebab, diperlukan jawaban hikmah, bukan jawaban hukum saja. “Indonesia itu umatnya umat fikih, yang ditanya hukum saja. Padahal hukum itu tidak menentu, maka lebih baik kita belajar sosiologisnya,” jelasnya.

Anak muda, biasanya mengalami masa-masa pencarian, atau orientasi hidup. Dibutuhkan ajakan mengenai agama yang bisa betul-betul mengena. Wijayanto menyadari hal itu, dan banyak belajar psikologi, agar ajakannya bisa mengena di hati anak muda yang gelisah.

“Agama prinsipnya di hati, jadi hatinya harus kena dulu. Kedua, hati ini kita lihat pemahamannya sangat beragam. Sejak di Geronimo orang tahu, kalau saya jawab semua pendapat saya sampaikan, kita tahu ada NU, Muhammadiyah, Salafiyah, tapi ada prinsip-prinsip yang saya pegang,” jelas Wijayanto.

Wijayanto menjelaskan empat prinsip-prinsipnya. Pertama Yassiru wala tu’ hassiru, artinya mudahkan jangan dipersulit. Tapi, jangan memudah-mudahkan agama, karena kalau dimudah-mudahkan juga keliru.

Kedua, Wa basyiru wala tunasiru, artinya enangkan jangan dibuat lari. Harus membuat orang enjoy beragama, jangan ditakut-takuti.

Wijayanto membedakan pendengarnya menjadi umat dakwah dan umat risalah. Umat dakwah adalah umat yang harus diseru untuk gemar beragama dulu. Dan, umat risalah adalah yang di Majlis Taklim, atau yang di pengajian rutin.“Saya tegas dalam hal itu (untuk Majlis Taklim). Ada 16 Majlis Taklim di Jakarta. Kalau nggak bawa Quran saya suruh pulang,” tegasnya.

Ketiga, Biqodri ‘uqulihim, artinya dengan kadar akalnya, dengan taraf pengetahuannya. Kepada publik yang awam, jangan dengan bahasa dan istilah yang rumit.

Keempat, Bilisani qaulihim, dengan bahasa kaumnya. Karena segmen anak muda, Wijayanto ingin jadi bagian dari mereka. “Bicara bukan saya senior mereka junior, sehingga lebih menemani, bahasa-bahasa kaum muda juga perlu kita sampaikan,” jelas Wijayanto.

5 thoughts on “Profil Ustad Wijayanto: Ustad Gaul

  1. ASSALAMUALAIKUM
    USTADZ KAPAN KE PEKALONGAN LAGI….. SEMOGA SEHAT SELALU UNTUK MENERANGI UMAT????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 2 = ten

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>