Lima ribu rupiah yang mengubah Rahmat

Lima ribu rupiah yang mengubah Rahmat

Ini kisah tentang perubahan (positif) seorang lelaki Aceh, anak dari keluarga yang tergolong berada. Ayahnya pensiunan bankir, yang kini mengelola hotel di Medan.

Kisah begini, pada bagian sebelum dia berubah, tentu jauh dari bisa disamaratakan dengan remaja Aceh lainnya yang kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Namun, kabar buruknya adalah saya kenal lebih dari satu orang Aceh yang perilakunya mirip.

Satu sisi uang kertas pecahan Rp5.000 tahun 2012

Continue reading

Mengajak blogger mempromosikan sejarah kota

Mengajak blogger mempromosikan sejarah kota

(di kiri) Dwi Cahyono, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Timur, penggagas Festival Malang Kembali (Malang Tempo Dulu)

Komunitas Blogger Malang, alias Globber Ngalam, mengundang berbagai komunitas blogger lainnya untuk mengikuti rangkaian acara OBLONG MERAH MUDA, singkatan dari Obrolan Blogger Ngalam Mengenang Sejarah Memajukan Budaya. Acara tersebut bagian dari rangkaian acara peringatan empat tahun berdirinya komunitas itu.

www.triunt.com

Continue reading

Tahun baru 2012 di lereng Gunung Merapi dan Merbabu

Saya pilih lereng Gunung Merapi dan Merbabu, alias di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, untuk menikmati malam pergantian tahun 2011 ke 2012.

Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, malam pergantian tahun di Jogja, kota domisili saya, terlalu crowded, macet. Kemacetan Jogja sudah mulai terasa sejak satu minggu sebelum pergantian tahun. Volume kendaraan membengkak.

Saya tidak bisa menikmati suasana demikian. Bahkan, jika saya hanya berdiam di kamar kos saja, keriuhan itu memuakkan. Saya lebih suka di pegunungan yang sejuk, dan tidak terlalu riuh.

Api unggun malam tahun baru 2012

Continue reading

Musik dangdut, yang menghibur di ASEAN Para Games

Musik dangdut, yang menghibur di ASEAN Para Games

Agak telat menulis ini, baru teringat setelah menata koleksi foto ASEAN Para Games beberapa hari lalu.

Ceritanya, pada hari terakhir dari pertandingan ASEAN Para Games, Senin 19 Desember 2011, di Wisma Haji Donohudan, Boyolali.

Sekitar pukul sembilan malam lebih sedikit, sayup-sayup terdengar gema lagu dangdut “Alamat Palsu” yang dipopulerkan Ayu Ting Ting, saat saya berada di sebelah ruangan media center.

Awalnya, saya sangka sumber suara dari tape yang mungkin iseng diputar paralympian yang menginap di wisma tersebut. Sedetik kemudian, saya langsung ingat ada gelaran hiburan di Gedung Muzdalifah. Memang selalu ada hiburan setiap malam di gedung itu, sejak Senin minggu lalu.

Selekasnya saya ambil kamera dan memasang lampu kilatnya, karena yakin banyak yang ikut bergoyang. Saya pikir, paralympian yang bergoyang dangdut itu bisa jadi obyek foto yang menarik. Sebelumnya, saya sudah ke ruangan itu, perlu lampu kilat untuk membekukan gerakannya.

Sesampai di sana, sudah ada blogger perambah asrama, alias Dony Alfan Sutanto, yang asyik memotret. Syukurlah, saya tidak terlalu terlambat. Keasyikan itu masih berlangsung selama hampir satu jam kemudian.

Dony Alfan Sutanto, Blogger Perambah Asrama

Continue reading

Profil Ustad Wijayanto: Menolak Jogja dan televisi

Profil

Ustad Wijayanto:

MENOLAK JOGJA DAN TELEVISI

Bagian ke empat dari empat tulisan (terakhir)

Empat tahun terakhir ini, Wijayanto relatif banyak menolak untuk mengisi pengajian di Jogja. Dia punya dua alasan. Pertama, karena ada orang yang namanya mirip, yakni Iip Wijayanto. Adapun, Iip 10 tahun lebih muda, dan pernah jadi mahasiswa-nya. Dia mengaku tidak mau ikut-ikutan sensasional. Selain itu, dia tidak punya taklim rutin di Jogja. “Karena saya pikir Jogja sudah terlalu banyak deh,” katanya.

Ustad Wijayanto bersama keluarga (Foto Istimewa)

Continue reading